Ketegangan di Timur Tengah Pasca Serangan Hamas-Israel: Potensi Perluasan Konflik

Di tengah gejolak di Timur Tengah, serangan oleh kelompok militan Palestina, Hamas, terhadap Israel pada akhir pekan lalu telah memicu ketegangan regional. Lebih lanjut, milisi Lebanon, Hizbullah, juga ikut serta dalam konflik ini dengan menyerang pasukan Israel. Saat ini, konflik antara Israel-Hamas dan Israel-Hizbullah terus berlanjut.

Selain itu, pada hari Selasa (10/10), Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa mereka menerima serangan roket dari wilayah Suriah. IDF pun merespons dengan melakukan serangan balasan ke wilayah Suriah.

Bacaan Lainnya

Tidak hanya itu, kelompok bersenjata dari Irak dan Yaman mengancam akan menyerang pangkalan Amerika Serikat di kedua negara tersebut jika mereka terlibat dalam konflik antara Israel dan Hamas.

Di tengah serangkaian serangan ini, muncul pertanyaan apakah konflik ini akan meluas menjadi konflik regional yang lebih besar. Fahmi Salsabila, seorang pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Riau, menyatakan bahwa kemungkinan perang ini bisa meluas.

Menurut Fahmi, Hizbullah merupakan sekutu Iran, sementara Suriah didukung oleh Rusia. Selain itu, negara Chechnya yang merupakan sekutu Rusia juga siap membantu Palestina. Di sisi lain, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis dikabarkan siap memberikan dukungan kepada Israel.

AS bahkan telah mengirimkan kapal induk USS Gerald R Ford dan ribuan personel ke Laut Mediterania. Namun, Fahmi memprediksi bahwa jika Israel terus melanjutkan serangan ke Gaza, simpati dunia terhadap Palestina akan semakin meluas, dan negara-negara yang mendukung Palestina tidak akan tinggal diam.

Meskipun skala perang mungkin lebih besar, namun tidak sebesar perang Arab-Israel pada tahun 1948 atau 1967, menurut Fahmi Salsabila. Hal ini dikarenakan sejumlah negara Arab Teluk telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Hussein Ibish, seorang peneliti dari Institut Negara Teluk Arab, juga memiliki pandangan serupa. Menurutnya, situasi ini bisa dengan mudah menjadi tidak terkendali dan berpotensi memicu serangan Israel ke Iran.

Direktur Institut Timur Tengah di SOAS University of London, Lina Khatib, juga berpendapat bahwa Hizbullah kemungkinan hanya akan berperan terbatas dalam konflik ini. Khatib menganggap bahwa terlibat dalam perang yang bertujuan menghancurkan Israel dapat berisiko menghilangkan kekuatan besar politik yang telah mereka kumpulkan selama ini.

Pos terkait